Pernah merasakan sakit kepala yang ngga berujung sampai nyerinya luar biasa. Itu perasaan yang tak bisa dilupakan ketika masih terbiasa memendam masalah sendirian. Tidah pernah bercerita baik ke sesama maupun dalam bentuk tulisan.
Bukan karena merasa kuat, akan tetapi karena tidak menemukan orang yang tepat untuk dijadikan teman bicara. Sampai suatu hari dipertemukan dengan seorang mentor dalam proses manajemen emosi "Forgiveness therapy." Lantas apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi sepert itu? ya, mencari jalan keluar untuk penyembuhan self healing.
Memahami Akar Masalah
Masalah apapun yang kita hadapi pasti ada penyebabnya. Mencari akar permasalahan adalah upaya untuk dapat memahami bagaimana kita akan mengatasi masalah tersebut. Bukan sekedar menduga dan mengira, namun betul-betul menyelesaikan masalah dari akarnya supaya bisa tuntas tak berbekas. Terhindar dari kemunculan kembali tentang masalah serupa.
Mengingat Masa Lalu
Ketika kita merasakan permasalahan saat ini begitu berat, maka saatnya kembali mereviu kondisi masa lalu. Bukan untuk mengungkit-ngungkit, barangkali ada suatu pelajaran yang bisa kita ambil untuk kita lakukan ulang saat ini. Tentunya tidak harus pakketiplek, namun mengambil makna serupa.
Moment ini adalah awal pergerakan untuk bangkit membangun semangat lagi untuk menulis. Ternyata masa laluku seorang penulis mimpi mulai dari SD sampai jadi mahasiswa, penuli diary saat MTS-MA, pernah ikut lomba cerpen di Class Meeting MA, pernah menjadi tim Mading organisasi di sebuah pondok, pernah rajin nge-blog di multiplay karena di ajak dan diajarin teman sampai akhirnya platformnya hilang, hilang juga jejakku untuk menulis.
Semenjak menikah aktivitas menulis ini tidak lagi di garap, hanya melipir menulis ketika update status media sosial.
Bergabung Dengan Komunitas
Semangat mulai bangkit bukan karena nafsu sesaat, namun ada perasaan yang luar biasa ketika rutinitas menulis di konsistenkan.
Memang tulisanku bukanlah sesuatu yang wah, baru sebatas jurnal syukur yang rutin aku tuliskan ketika mau beranjak tidur. Karena menemukan suatu perasaan yang seperti tidak ada beban berat ketika sudah menulis maka aku mencoba mencari informasi tentang menulis.
Dunia online sangat memberikan kemudahan, sekali jemari bergerak menuliskan kata kunci di pencarian informasi langsung bermunculan.
Untuk melatih konsistensi kutemukan di Kelas Literasi Ibu Profesional, sementara bloging kutemukan di Ibu Ibu Doyan Nulis. Dua komunitas yang sangat mendukung untuk memandu memulai dari membangun semangat lagi. Baca juga Alasan Aku Menulis
Mulai Saja Dulu
Tagline yang aku kedepankan untuk memotivasi diri sendiri. Sempat maju mundur karena terlalu melihat keluar diri. Bagaimana tidak jiper, kawan sepermainan sudah menelurkan buku dan itu sudah jadi, sudah bergenre, fiksi lagi. Hihihi berat rasanya menerima kenyataan ini.
Free writing masih kugeluti, karena dari awal sudah mengazamkan menulis untuk self healing. Atau bahkan masih dibilang tulisanku masih berupa curhatan Emak-emak.
Be your self kadang melecutkan semangat kadang menciutkan. Namun kini yang penting adalah tidak berhenti bergerak, selalu membuat list waktu untuk belajar.
Menikmati proses, jangan tergesa-gesa. Karena yang diinginkan adalah keberlanjutan bukan untuk sesaat.
0 komentar:
Posting Komentar