"Setiap orang mempunyai jam, akan tetapi tidak semua orang punya waktu." -Anonim
Saya seorang Ibu Rumah Tangga. Selalu merasa tidak bisa mengatur waktu dan selalu mendapatkan pembenaran ketika bertemu dengan Ibu lainnya yang mempunyai tantangan yang sama.
Pada akhirnya, mencoba mengembalikan pada diri, bertanya lebih dalam pada diri. Apakah betul waktu 24 jam itu tidak cukup? Sementara kita masih bisa scrolling sosial media, masih bisa nonton drama korea dan aktivitas lain-lainnya.
Akhirnya waktu 24 jam itu hanya dimaknai pelampiasan diri yang belum bisa berdamai dengan pekerjaan yang dianggap tidak bisa di selesaikan tepat pada waktunya.
Ini bisa diartikan bahwa waktu 24 jam dikatakan cukup itu, ketika kita bisa menyelesaikan segala pekerjaan yang kita anggap deadline tepat pada waktunya.
Jadi permasalahan sebetulnya bukan terletak pada waktunya. Akan tetapi lebih kepada pelaku yang mengambil manfaat dari berjalannya sang waktu.
Ketika mendapatkan sebuah kata bijak :
"Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu." -Imam Syafii
Sudah jelas yang menjadi pelaku utama adalah diri kita sendiri. Maka ketika kita memiliki sederetan aktivitas, saatnya untuk kita lebih sadar diri dan lebih berkomitmen pada diri untuk bisa melakukan sederet aktivitas tersebut sesuai dengan jadwalnya.
Adapun ketika kita sedikit saja terpeleset, atau kita malah berleha-leha dengan mencampur-adukkan aktivitas yang akan mengganggu aktivitas inti kita. Maka tunggu saja akibatnya, dengan diibaratkan sebagai pedang yang akan memotongmu. Mungkin hal pertama yang akan kita rasakan adalah rasa penyesalan, kemudian akan muncul ketidak nyamanan. Pada akhirnya akan mencari cara pembenaran bahwa 24 jam itu tidak mencukupi. Padahal Allah SWT menyedikan segala sesuatu tentu dengan segala manfaatnya.
Allah SWT pun banyak mengingatkan kita akan pentingnya menjaga waktu. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-quran surat Al-Asr Ayat 1-3 :
1. Demi masa,
2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali bagi orang yang beriman yang senantiasa berbuat baik dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan diri untuk senantiasa berbuat baik. Karena berbuat baik yang utama adalah berbuat baik kepada diri sendiri dengan berlaku adil dalam memanfaatkan waktu.
Jika kepada diri sendiri sudah bisa berbuat baik, maka kepada orang lainpun akan diberi kemampuan untuk berbuat kebaikan.
Dan ketika kita istiqomah dalam perbuatan baik, maka kitapun akan memiliki kemampuan memberi dan menerima. Jadi akan mendapatkan sifat saling yang berarti kesiapan diri untuk memberi dan menerima nasehat baik itu kebenaran dan kesabaran.
Karena jika belum muncul sifat memberi dan menerima rasanya akan sulit untuk menebarkan saling menasehati. Rasa saling ini akan tumbuh subur pada orag yang sudah mampu berbuat baik kepada dirinya sendiri. Sehingga karena tercukupi maka penerimaan diri akan nasehat kebenaran dan kesabaran tentunya kan bisa di terima dengan lapang dada.


