Senin, 16 Mei 2022

Cukupkah hanya 24 Jam?

 "Setiap orang mempunyai jam, akan tetapi tidak semua orang punya waktu." -Anonim 

Saya seorang Ibu Rumah Tangga. Selalu merasa tidak bisa mengatur waktu dan selalu mendapatkan pembenaran ketika bertemu dengan Ibu lainnya yang mempunyai tantangan yang sama. 

Pada akhirnya, mencoba mengembalikan pada diri, bertanya lebih dalam pada diri. Apakah betul waktu 24 jam itu tidak cukup? Sementara  kita masih bisa scrolling sosial media, masih bisa nonton drama korea dan aktivitas lain-lainnya.

Akhirnya waktu 24 jam itu hanya dimaknai pelampiasan diri yang belum bisa berdamai dengan pekerjaan yang dianggap tidak bisa di selesaikan tepat pada waktunya.

Ini bisa diartikan bahwa waktu 24 jam dikatakan cukup itu, ketika kita bisa menyelesaikan segala pekerjaan yang kita anggap deadline tepat pada waktunya.

Jadi permasalahan sebetulnya bukan terletak pada waktunya. Akan tetapi lebih kepada pelaku yang mengambil manfaat dari berjalannya sang waktu.

Ketika mendapatkan sebuah kata bijak :

"Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu." -Imam Syafii

Sudah jelas yang menjadi pelaku utama adalah diri kita sendiri. Maka ketika kita memiliki sederetan aktivitas, saatnya untuk kita lebih sadar diri dan lebih berkomitmen pada diri untuk bisa melakukan sederet aktivitas tersebut sesuai dengan jadwalnya.

Adapun ketika kita sedikit saja terpeleset, atau kita malah berleha-leha dengan mencampur-adukkan aktivitas yang akan mengganggu aktivitas inti kita. Maka tunggu saja akibatnya, dengan diibaratkan sebagai pedang yang akan memotongmu. Mungkin hal pertama yang akan kita rasakan adalah rasa penyesalan, kemudian akan muncul ketidak nyamanan. Pada akhirnya akan mencari cara pembenaran bahwa 24 jam itu tidak mencukupi. Padahal Allah SWT menyedikan segala sesuatu tentu dengan segala manfaatnya.

Allah SWT pun banyak mengingatkan kita akan pentingnya menjaga waktu. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-quran surat Al-Asr Ayat 1-3 :

1. Demi masa,

2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali bagi orang yang beriman yang senantiasa berbuat baik dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan diri untuk senantiasa berbuat baik. Karena berbuat baik yang utama adalah berbuat baik kepada diri sendiri dengan berlaku adil dalam memanfaatkan waktu.

Jika kepada diri sendiri sudah bisa berbuat baik, maka kepada orang lainpun akan diberi kemampuan untuk berbuat kebaikan.

Dan ketika kita istiqomah dalam perbuatan baik, maka kitapun akan memiliki kemampuan memberi dan menerima. Jadi akan mendapatkan sifat saling yang berarti kesiapan diri untuk memberi dan menerima nasehat baik itu kebenaran dan kesabaran.

Karena jika belum muncul sifat memberi dan menerima rasanya akan sulit untuk menebarkan saling menasehati. Rasa saling ini akan tumbuh subur pada orag yang sudah mampu berbuat baik kepada dirinya sendiri. Sehingga karena tercukupi maka penerimaan diri akan nasehat kebenaran dan kesabaran tentunya kan bisa di terima dengan lapang dada.



 

Selasa, 07 Desember 2021

Aliran Rasa KLIP



Setahun berlalu sangat tidak terasa. Tau-tau Senin lagi, tau-tau Desember lagi. Ini menunjukkan  bahwa kita hidup berpacu dengan waktu. Maka tak ada alasan untuk menyia-nyiakan kehidupan ini, kecuali  dengan melakukan hal yang bernilai guna.

Perjalanan  setahun  bersama Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) adalah warna baru di tahun 2021. Yeayyy akhirnya aku nulis lagi, akhirnya aku berhasil menemukan healing  untuk  keresahan di episode  terberat  hidupku. 

Meski  baru sebatas curahan hati, namun menulis  sudah menjadi peredam emosiku  tatkala sudah memuncak di ubun-ubun.

 'Alaa  kulli haal... Alhamdulillaah  atas karunia dipertemukannya  aku dengan  KLIP sehingga bisa mewarnai kehidupanku  dengan hal yang bermanfaat.

Terima kasih  KLIP sudah menjadi wasilah melatih komitmen dan konsisten dalam menulis. Untuk membangun kembali  jiwa kepenulisan  bagiku sangat  BAHAGIA dengan 10 tulisan di setiap bulan. Semoga terus konsisten  dan kedepannya bisa lebih meningkat lagi baik dari segi kuantitas  maupun kualitas  tulisannya. Aamiin yra...

Yang paling menantang di KLIP itu batasan katanya, yang terus meningkat mulai dari 300 kata sampai akhirnya 500 kata di catur wulan ketiga.

Bukan hal yang sulit ketika tulisan kita berupa curahan hati. Namun, ketika dihadapakan  pada sesuatu yang harus sesuai  tema 300-500 kata itu berat ferguso! Hahaha...

Skripsi?

Apa? KLIP harus ada skripsi ?

Puyeng  tuh, hahaha...

Secara nulis selama ini buat happy-happy saja, lha  ini harus nulis skripsi. Hihihi...

Ternyata  nggak jelimet  yang Anda pikir Esmeralda! Skripsi  KLIP itu  mengambil benang merah  dari apa yang sudah ditulis selama setahun ini.

Berhubung  lagi suka cerita perjalanan hidup. Yuk ah bismillaah  menyusun puzzle kehidupan  dengan bahagia.

Terima kasih KLIP sudah menemani setahun ini penuh makna.

Terima kasih tim  KLIP yang kerennya kebangetan. 

Terima kasih  kepada Allah SWT semata atas karunia-Mu bisa melalui tahun ini  dengan penuh makna.



Sabtu, 06 November 2021

Menulis itu Self Healing


Pernah merasakan sakit kepala yang ngga berujung sampai nyerinya  luar  biasa. Itu perasaan  yang tak bisa dilupakan  ketika masih terbiasa memendam masalah sendirian. Tidah pernah bercerita  baik ke sesama maupun  dalam bentuk tulisan.

Bukan karena merasa kuat, akan tetapi karena tidak menemukan orang yang tepat untuk  dijadikan teman bicara. Sampai suatu hari dipertemukan dengan seorang mentor  dalam proses manajemen  emosi "Forgiveness therapy." Lantas apa yang bisa kita lakukan dengan kondisi sepert itu? ya, mencari jalan keluar untuk penyembuhan self healing.

Memahami Akar Masalah

Masalah apapun yang kita hadapi pasti ada penyebabnya. Mencari akar permasalahan adalah upaya untuk dapat memahami bagaimana kita akan mengatasi masalah tersebut. Bukan sekedar menduga dan mengira, namun betul-betul menyelesaikan masalah dari akarnya supaya bisa tuntas tak berbekas. Terhindar dari kemunculan kembali tentang masalah serupa.

Mengingat Masa Lalu

Ketika kita merasakan permasalahan saat ini begitu berat, maka saatnya kembali mereviu kondisi masa lalu. Bukan untuk mengungkit-ngungkit, barangkali ada suatu pelajaran yang bisa kita ambil untuk kita lakukan ulang saat ini. Tentunya tidak harus pakketiplek, namun mengambil makna serupa. 

Moment ini adalah awal pergerakan untuk bangkit membangun semangat lagi untuk menulis. Ternyata masa laluku seorang penulis mimpi mulai dari SD sampai jadi mahasiswa, penuli diary saat MTS-MA, pernah ikut lomba cerpen di Class Meeting MA, pernah menjadi tim Mading organisasi di sebuah pondok, pernah rajin nge-blog di multiplay karena di ajak dan diajarin teman sampai akhirnya platformnya hilang, hilang juga jejakku untuk menulis. 

Semenjak menikah aktivitas menulis ini tidak lagi di garap, hanya melipir menulis ketika update status media sosial. 

Bergabung Dengan Komunitas

Semangat mulai bangkit bukan karena nafsu sesaat, namun ada perasaan yang luar biasa ketika rutinitas menulis di konsistenkan. 

Memang tulisanku bukanlah sesuatu yang wah, baru sebatas jurnal syukur yang rutin aku tuliskan ketika mau beranjak tidur. Karena menemukan suatu perasaan yang seperti tidak ada beban berat ketika sudah menulis maka aku mencoba mencari informasi tentang menulis.

Dunia online sangat memberikan kemudahan, sekali jemari bergerak menuliskan kata kunci di pencarian informasi langsung bermunculan.

Untuk melatih konsistensi kutemukan di Kelas Literasi Ibu Profesional, sementara bloging kutemukan di Ibu Ibu Doyan Nulis. Dua komunitas yang sangat mendukung untuk memandu memulai dari membangun semangat lagi. Baca juga Alasan Aku Menulis 

Mulai Saja Dulu

Tagline yang aku kedepankan untuk memotivasi diri sendiri. Sempat maju mundur karena terlalu melihat keluar diri. Bagaimana tidak jiper, kawan sepermainan sudah menelurkan buku dan itu sudah jadi, sudah bergenre, fiksi lagi. Hihihi berat rasanya menerima kenyataan ini. 

Free writing masih kugeluti, karena dari awal  sudah mengazamkan menulis untuk self healing. Atau bahkan masih dibilang tulisanku masih berupa curhatan Emak-emak. 

Be your self kadang melecutkan semangat kadang menciutkan. Namun kini yang penting adalah tidak berhenti bergerak, selalu membuat list waktu untuk belajar.

Menikmati proses, jangan tergesa-gesa. Karena yang diinginkan adalah keberlanjutan bukan untuk sesaat.

SONG FOR SELF HEALING



Minggu, 17 Oktober 2021

Alasan Aku Menulis



Ngeblog dari 0 adalah program yang sedang aku ikuti di di sebuah komunitas menulis Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN). Bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat menulis, membuatku semakin terpacu untuk mengembalikan lagi semangat mudaku dalam menulis meski baru sebatas diary. 

Sempat aku mengenal beberapa platform menulis namun hampir semuanya kandas karena kelalaianku ataupun memang platform tersebut kini sudah tidak ada lagi. Tulisannya pun lenyap, karena tidak pernah di back up. Sekalinya ada back up sudah tidak bisa dibuka karena disimpan di disket. Sudah ketahuan kan, aku anak jaman mana. Hahaha...

Kini semangat itu kutemukan lagi disaat usiaku hampir mendekati kepala empat. Bukan secara tiba-tiba kudapati semangat itu, namun melalui proses yang lumayan panjang. 

Berikut fase-fase dimana kumenemukan lagi semangat menulis :

Mentoring Manajemen Emosi


Dalam salah satu agenda perkuliahan online yang aku ikuti adalah kelas mentoring sesuai dengan peminatan. Aku yang sedang berupaya memperbaiki diri bergabung dalam manajemen emosi. Mentoring yang aku ikuti pun berupa terapi pemaafan "Forgivenes therapy" yang ditawarkan oleh seorang mentor. Akupun mendaftar sebagai mentee. 

Mulai bercerita tentang apa yang menjadi tantangan hidupku. Buku "Forgivenes therapy" pun menjadi panduan untukku melakukan step by step teknik pemaafan. Hingga akhirnya harus menentukan aktifitas sebagai healing atau pengurai emosiku. 

Setelah merenung dan mereviu masa laluku, akhirnya kutemukan kebiasan lama yang tidak sempat lagi aku lakukan. Ya menulis diary, kebisaan masa kecil sampai masa kuliahku terhenti ketika aku berumah tangga.

Akhirnya aku diarahkan untuk kembali melakukan kebiasaan menulis itu. Mungkin kini tidak berupa diary, tapi sesuatu yang lebih kekinian. Akhirnya kucoba memberanikan diri menulis keseharian dalam sebuah blog sederhana ala emak-emak. Dan lahirlah blog ala-ala keluarga kecilku.

Menulis Antologi

Keputusan untuk menulis kembali masih hangat. Aku pun mendapatkan tawaran untuk ikut dalam project buku antologi. Sempat bertanya pada diri sendiri, apakah aku sanggup? Namun, temanku meyakinkan setiap orang bisa menulis. Karena buku ini dibuat untuk penulis yang benar-benar pemula.

Akhirnya memberanikan diri ikut menuliskan kisah masa kecilku. Masih belepotan, karena aku sama-sekali belum pernah belajar serius untuk tata bahasa. Terbitlah buku "Impian dan Harapan" bersama buah karya bersama, dengan menyisipkan kisah hidupku didalamnya.

Rumah Belajar Literasi

Kelas belajar menulis pertama kali yang aku ikuti. Merupakan program baru di sebuah komunitas yang aku ikuti. Mulai sedikit demi sedikit mengenal kata baku dan non baku, tanda baca, maupun tata cara menulis lainnya. Meski belum terlalu banyak yang aku tahu, setidaknya sudah membuka cara pandanganku bahwa menulis itu perlu mengetahui tata bahasa yang baik dan benar.

Aku juga mendapat pencerahan pentingnya membaca. Karena jujur aktivitas membaca adalah hobi yang sudah kutinggalkan lama. Kini perlahan kubangun lagi.

Kelas Literasi Ibu Profesional

Disini kutemukan tempat untuk belajar konsisten menulis. Bersama ratusan perempuan membangun ekosistem untuk menulis setiap hari. Untuk bergabung dengan komunitas ini tidak ada syarat khusus, hanya mau konsisten menulis. 

Pencapaian konsistensi selama satu tahun, sehingga pendaftarannya hanya dibuka setiap awal tahun.

Sebagai pemula, aku tidak terlalu mematok diri dengan target yang tinggi. Menetapkan 10 tulisan untuk disetor setiap bulan, merupakan pencapaianku sampai di bulan ke sembilan.

Ibu Ibu Doyan Nulis

Grup facebook Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) merupakan komunitas menulis yang aku ikuti sejak lama. Banyak pelajaran berharga yang aku dapati. Namun mengikuti kelas intensif seperti ngeblog dari 0 adalah pengalaman pertamaku.

Semoga bisa menjadi awal yang baik untuk memulai menekuni dunia blogger. Bisa menulis lebih baik lagi. Bisa lebih banyak menebar kebermanfaatan untuk orang banyak.

***

Menjalani dunia kepenulisan bukan hanya bercerita tentang keberhasilan dan sukses melahirkan tulisan. Pernah bahkan sering mengalami kegagalan dalam memuat tulisan. Apalagi ketika mengikuti challenges yang berbatas waktu, terkadang malah menjadi tulisan kenangan yang hanya disimpan dalam draft

Pernah juga gagal mengikuti project antologi karena sama sekali tidak ada ide untuk menulis.

Maka benar adanya pernyataan seorang penulis ternama yang sangat memotivasi untuk terus menulis. 

"Syarat untuk menulis ada tiga yaitu : menulis, menulis, dan menulis." -Kuntowijoyo

Wahai diri
Jangan pernah lelah
Jangan pernah menyerah
Ketika menulis sudah menjadi pembiasaan
Maka akan kau temukan kebahagian

 

Sabtu, 12 Juni 2021

Jumat, 04 Juni 2021

Syukur


"Ketika kamu merasa rumput di halaman tetangga lebih jijau daripada milikmu., jangan ada rasa iri, cukup bersyukur karena kami masih hidup berpijak"