Sempat aku mengenal beberapa platform menulis namun hampir semuanya kandas karena kelalaianku ataupun memang platform tersebut kini sudah tidak ada lagi. Tulisannya pun lenyap, karena tidak pernah di back up. Sekalinya ada back up sudah tidak bisa dibuka karena disimpan di disket. Sudah ketahuan kan, aku anak jaman mana. Hahaha...
Kini semangat itu kutemukan lagi disaat usiaku hampir mendekati kepala empat. Bukan secara tiba-tiba kudapati semangat itu, namun melalui proses yang lumayan panjang.
Berikut fase-fase dimana kumenemukan lagi semangat menulis :
Mentoring Manajemen Emosi
Dalam salah satu agenda perkuliahan online yang aku ikuti adalah kelas mentoring sesuai dengan peminatan. Aku yang sedang berupaya memperbaiki diri bergabung dalam manajemen emosi. Mentoring yang aku ikuti pun berupa terapi pemaafan "Forgivenes therapy" yang ditawarkan oleh seorang mentor. Akupun mendaftar sebagai mentee.
Mulai bercerita tentang apa yang menjadi tantangan hidupku. Buku "Forgivenes therapy" pun menjadi panduan untukku melakukan step by step teknik pemaafan. Hingga akhirnya harus menentukan aktifitas sebagai healing atau pengurai emosiku.
Setelah merenung dan mereviu masa laluku, akhirnya kutemukan kebiasan lama yang tidak sempat lagi aku lakukan. Ya menulis diary, kebisaan masa kecil sampai masa kuliahku terhenti ketika aku berumah tangga.
Akhirnya aku diarahkan untuk kembali melakukan kebiasaan menulis itu. Mungkin kini tidak berupa diary, tapi sesuatu yang lebih kekinian. Akhirnya kucoba memberanikan diri menulis keseharian dalam sebuah blog sederhana ala emak-emak. Dan lahirlah blog ala-ala keluarga kecilku.
Menulis Antologi
Keputusan untuk menulis kembali masih hangat. Aku pun mendapatkan tawaran untuk ikut dalam project buku antologi. Sempat bertanya pada diri sendiri, apakah aku sanggup? Namun, temanku meyakinkan setiap orang bisa menulis. Karena buku ini dibuat untuk penulis yang benar-benar pemula.
Akhirnya memberanikan diri ikut menuliskan kisah masa kecilku. Masih belepotan, karena aku sama-sekali belum pernah belajar serius untuk tata bahasa. Terbitlah buku "Impian dan Harapan" bersama buah karya bersama, dengan menyisipkan kisah hidupku didalamnya.
Rumah Belajar Literasi
Kelas belajar menulis pertama kali yang aku ikuti. Merupakan program baru di sebuah komunitas yang aku ikuti. Mulai sedikit demi sedikit mengenal kata baku dan non baku, tanda baca, maupun tata cara menulis lainnya. Meski belum terlalu banyak yang aku tahu, setidaknya sudah membuka cara pandanganku bahwa menulis itu perlu mengetahui tata bahasa yang baik dan benar.
Aku juga mendapat pencerahan pentingnya membaca. Karena jujur aktivitas membaca adalah hobi yang sudah kutinggalkan lama. Kini perlahan kubangun lagi.
Kelas Literasi Ibu Profesional
Disini kutemukan tempat untuk belajar konsisten menulis. Bersama ratusan perempuan membangun ekosistem untuk menulis setiap hari. Untuk bergabung dengan komunitas ini tidak ada syarat khusus, hanya mau konsisten menulis.
Pencapaian konsistensi selama satu tahun, sehingga pendaftarannya hanya dibuka setiap awal tahun.
Sebagai pemula, aku tidak terlalu mematok diri dengan target yang tinggi. Menetapkan 10 tulisan untuk disetor setiap bulan, merupakan pencapaianku sampai di bulan ke sembilan.
Ibu Ibu Doyan Nulis
Grup facebook Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) merupakan komunitas menulis yang aku ikuti sejak lama. Banyak pelajaran berharga yang aku dapati. Namun mengikuti kelas intensif seperti ngeblog dari 0 adalah pengalaman pertamaku.
Semoga bisa menjadi awal yang baik untuk memulai menekuni dunia blogger. Bisa menulis lebih baik lagi. Bisa lebih banyak menebar kebermanfaatan untuk orang banyak.
***
Menjalani dunia kepenulisan bukan hanya bercerita tentang keberhasilan dan sukses melahirkan tulisan. Pernah bahkan sering mengalami kegagalan dalam memuat tulisan. Apalagi ketika mengikuti challenges yang berbatas waktu, terkadang malah menjadi tulisan kenangan yang hanya disimpan dalam draft.
Pernah juga gagal mengikuti project antologi karena sama sekali tidak ada ide untuk menulis.
Maka benar adanya pernyataan seorang penulis ternama yang sangat memotivasi untuk terus menulis.
"Syarat untuk menulis ada tiga yaitu : menulis, menulis, dan menulis." -Kuntowijoyo
Wahai diriJangan pernah lelahJangan pernah menyerahKetika menulis sudah menjadi pembiasaanMaka akan kau temukan kebahagian
Salam kenal kakak.
BalasHapusSaya baru belajar ngeblog di komunitas IIDN nih. Dan sekarang jadi penasaran dengan KLIP Rumah belajar Literasi.